Mengenal BIOS dan Fungsinya

5 min read

BIOS dan Fungsinya

BIOS dan Fungsinya – Istilah BIOS muncul sejak zaman PC IBM dan kompatibelnya berjaya di tahun 1980-an. BIOS adalah singkatan dari Basic Input/Output System. BIOS adalah program yang paling pertama dijalankan ketika komputer dinyalakan karena BIOS menyimpan pengaturan pengendalian perangkat keras komputer itu sendiri.

Ketika komputer dinyalakan, BIOS menginisialisasi (mengenali) perangkat-perangkat keras yang terhubung pada sistem komputer tersebut. BIOS kemudian mengecek kesiapan dan status perangkat-perangkat keras tersebut. Apabila ada perangkat keras yang tidak hadir atau perangkat keras yang bermasalah di dalam sistem, BIOS akan mengeluarkan kode isyarat. Kode tersebut dapat berupa bunyi melalui speaker atau tampilan pesan visual di layar monitor.

Apa itu BIOS?

Anda yang bergelut di bidang komputerisasi pasti tidak asing mendengar istilah BIOS. Namanya pasti sangat akrab di telinga Anda. Berbeda dengan masyarakat awam yang sama sekali tidak paham akan sistem komputerisasi dan seluk beluknya. Kata-kata atau istilah BIOS pasti cukup asing. Sekalipun dijelaskan, kemungkinan untuk membayangkannya akan sulit. Apa itu BIOS dan Apa Fungsinya?

Jika diibaratkan, BIOS pada komputer sama halnya dengan alarm. BIOS akan “berbicara” pada pemiliki komputer, memberitahu jika ada sesuatu yang tidak beres pada perangkat komputer yang dimilikinya. Cara berbicara BIOS tentu saja berbeda dengan manusia, seperti yang telah disebutkan di atas, BIOS akan mengeluarkan bunyi-bunyian yang khas, dan bagi orang awam, bunyi dari BIOS bisa menimbulkan kepanikan karena memekakan telinga.

Urutan perangkat-perangkat yang dideteksi pertama kali oleh BIOS adalah kartu tampilan video (video graphic card) atau pengendali grafis, keyboard dan mouse, hard disk drive, optical drive, dan perangkat lain. Selanjutnya, BIOS mencari program (yang dikenal sebagai sistem operasi) yang tersimpan di media penyimpanan (yang telah ditandai atau ditentukan sebagai boot device) seperti hard disk, CD atau DVD, kemudian memuat dan menjalakan program tersebut.

Baca Juga:  Cara Masuk Bios Windows 8 Dan Windows 10 [ASUS]

Setelah sistem operasi berjalan, BIOS menyerahkan kontrol sistem komputer tersebut kepadanya. Seluruh rangkaian proses tersebut dikenal sebagai booting atau booting up –istilah singkatan dari bootstrapping.

Program BIOS disimpan di dalam sebuah chip ROM nonvolatile yang dipasangkan ke motherboard sistem komputer. BIOS-BIOS di masa lalu disimpan dalam chip yang tak dapat diubah-ubah lagi isinya. Akan tetapi, di zaman sekarang, isi chip BIOS modern dapat diubah atau di-upgrade isinya. Program BIOS biasanya dirancang untuk dapat bekerja dengan suatu sistem tertentu dan memiliki simpanan informasi tentang berbagai perangkat yang membangun sistem komputer tersebut.

Program BIOS memiliki antarmuka tampilan yang dapat diakses melalui tombol atau kombinasi tombol tertentu di kibor. Melalui antarmuka ini, pengguna komputer dapat melakukan:

  • Konfigurasi perangkat keras,
  • Pengaturan jam sistem,
  • Pengaturan komponen sistem (termasuk aktivasi dan deaktivasinya),
  • Pengaturan pilihan media penyimpanan yang dibaca untuk bootstrapping, dan
  • Berbagai pengaturan keamanan seperti password.

Keamanan Chip BIOS

Di masa lalu, komputer menggunakan chip BIOS yang tidak dapat diubah lagi isi memorinya. Chip ini dikenal sebagai chip ROM (Read Only Memory). Di dalam chip inilah, program BIOS serta informasi pengaturannya di simpan. Dengan kata lain, pengaturan BIOS di masa lalu tak dapat diubah lagi.

Dengan penyimpanan BIOS pada chip EEPROM (Eletrically Erasable Programmable Read Only Memory), BIOS pada komputer modern dapat diperbarui dengan tambahan pengaturan baru dan sebagainya. Akan tetapi ini berisiko pula meningkatkan munculnya masalah pada komputer. Masalah tersebut bisa berupa salah pengaturan atau hilangnya pengaturan. Ini bisa diakibatkan karena kerusakan memori, salah mengatur setting, kegagalan proses upgrade BIOS, atau serangan virus.

Setidaknya, dikenal tiga serangan virus atau kesalahan pemrograman yang dapat menyerang BIOS. Di akhir dekade 1990-an, muncul sebuah virus yang mampu menghapus isi Flash ROM BIOS sehingga mengakibatkan komputer tak dapat dipakai sama sekali. Virus ini dikenal sebagai CIH atau Chernobyl. Virus ini pertama kali muncul pada pertengahan 1998 dan menjadi aktif pada April 1999. Virus ini menghapus isi memori BIOS sehingga komputer tak dapat booting sama sekali.

Baca Juga:  Cara Masuk Bios Windows 8 Dan Windows 10 [ASUS]

Untuk memperbaikinya, chip ROM BIOS harus dicopot dari motherboard dan diprogram ulang. Virus ini mengkhususkan diri untuk beraksi di motherboard dengan chipset Intel i430TX yang sedang populer di dunia saat itu. Selain itu, dia mendayagunakan kemampuan keluarga sistem operasi Windows 9x yang ketika itu sedang populer. Ini karena sistem operasi tersebut mengizinkan akses langsung ke kendali perangkat keras oleh semua program yang berjalan di atasnya.

Selain Chernobyl, ada dua teknik yang mengeksploitasi bug systemsehingga mampu mengubah konfigurasi BIOS. Teknik tersebut adalah Black Hat 2006 yang diperkenalkan di Black Hat Security Conference (2006) serta Persisten BIOS Infection yang diperkenalkan oleh Anibal Sacco dan Alfredo Ortega dari Core Security Technologies pada SyScan Security Conference di Singapura 2009

Kode BIOS

Setiap BIOS memiliki set kode masing-masing. Kode BIOS biasanya berupa kode audio, yaitu bunyi bip panjang atau pendek yang dibunyikan komputer ketika pertama kali dinyalakan. Selain berupa audio, kode BIOS juga dapat berupa visual, yaitu kode yang muncul di monitor dan menunjukkan status perangkat keras sistem komputer yang dianalisis oleh BIOS.

Apa itu BIOS dan apa saja Fungsinya

BIOS dan Fungsinya

Hal yang perlu dipahami adalah, setiap BIOS yang berbeda memiliki kode BIOS yang berbeda pula. Oleh karena itu, untuk mengetahui arti kode BIOS yang bersangkutan, Anda perlu tahu dulu jenis BIOS-nya. Untuk mengetahui kode-kode BIOS yang ada pada beberapa BIOS tertentu, Anda dapat mengecek referensinya di alamat https://www.bioscentral.com/

Meng-upgrade BIOS

BIOS idealnya hanya boleh di-ugrade ketika komputer kita mengalami kerusakan atau masalah. Jika komputer dalam keadaan baik-baik saja sebaiknya jangan mengupgrade BIOS, jika tidak maka bukan hal yang mustahil komputer Anda justru tidak bisa lagi digunakan.

Baca Juga:  Cara Masuk Bios Windows 8 Dan Windows 10 [ASUS]

Berikut ini adalah penyebab BIOS harus segera di-upgrade:

  • Komputer mati sebelum masuk sistem operasi
  • Komputer kita sudah berusia “tua”. penggantian processor baru bisa “membingungkan” sistem BIOS.
  • BIOS rusak.
  • BIOS tidak bisa mendeteksi kerusakan pada komputer
  • Menambah daya kerja dari perangkat komputer Anda

BIOS adalah “alarm” yang memberitahukan kejanggalan pada komputer Anda. Peranan BIOS tentu sangat penting oleh sebab itu menjaga BIOS agar tetap stabil harus diperhatikan. Berikut ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan, karena dapat mengganggu kinerja dari BIOS atau merusakkan BIOS:

  • Mematikan komputer tanpa dishutdown terlebih dahulu, atau gangguan listrik terputus yang terlalu sering sehingga komputer tiba-tiba mati.
  • Komputer Anda terkena virus.
  • Kesalahan ketika meng-upgrade BIOS. BIOS tidak cocok dengan perangkat motherboard.

Jika BIOS Anda bermasalah hal yang harus Anda lakukan adalah meng-upgdarenya. Untuk melakukan peng-upgradean BIOS, Anda harus menyediakan dua file, yaitu file BIOS dan software yang digunakan untuk meng-upgrade BIOS itu sendiri.

Peng-upgradean BIOS biasanya dilakukan melalui DOS atau MS-DOS. Pastikan BIOS dan software yang akan digunakan untuk meng-upgrade sesuai, karena jika tidak hal itu justru akan membuat komputer mati. Jika BIOS dan software yang digunakan sesuai, maka BIOS Anda kemungkinan berhasil untuk di-upgrade.

Itulah tadi pembahaasn tentang BIOS dan Fungsinya, semoga bermanfaat.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *